Saturday, November 21, 2015

'Doea Tanda Cinta': Asmara Segitiga Calon Taruna

Hujan deras mengguyur di suatu hutan tropis. Bunyi tembakan menggema di hawa. Suatu jeep berisi sekian banyak prajurit TNI melintas menyisir seisi hutan dalam satu buah operasi militer. Di sudut lain hutan kita menyaksikan sosok Bagus (Fedi Nuril, ‘Ayat-ayat Cinta’, ‘Garasi’) terengah-engah, terluka, & seketika roboh ke tanah. Dulu narasi bergulir mundur jauh ke periode lampau dikala Bagus masihlah jadi pemenang kampung & suka berkelahi menghajar beberapa orang yg dianggapnya sok jago. Dinasihati oleh ibunya utk jadi terpandai betulan, dirinya lantas mendaftarkan diri ke akademi militer buat jadi seseorang prajurit.
kata mutiara cinta
Kepada kala yg sama, di area yg tidak serupa, kita diperkenalkan kepada tokoh lain, Mahesa (Rendy Kjaernett, ‘Thank You Cinta’, ‘Aku, Kau dan KUA’), laki laki songong anak satu orang pejabat militer (diperankan oleh Tio Pakusadewo). Sebuah kali dia menciptakan masalah bersama menghajar satu orang di suatu club. Ayahnya mengetahui hal tersebut, & seperti ibunya Bagus, beliau serta menasihati putra semata wayangnya itu & memasukkannya ke akademi militer.

Sehingga, begitulah, di akademi militer Bagus & Mahesa berjumpa & jadi satu regu. Mereka ditempa serangkaian latihan & ujian kedisiplinan. Mahesa tidak jarang menciptakan masalah pun merugikan teman-temannya bersama tindakan-tindakan indisiplinernya. Seperti, absen dari latihan, bersembunyi menghindari apel, & tindakan-tindakan cengeng yang lain yg condong memperlihat sudut manja beliau. Elemen ini berlainan sekali bersama penggambaran sosoknya di awal film yg tampak beringas bersama menonjok orang di satu buah club. Di asrama akademi militer itu, Mahesa jadi sosok lemah yg mendambakan figur pelindung bagi dia. Di ketika itulah, manakala dia dihukum oleh komandannya, Bagus senantiasa ada & jadi satu-satunya orang yg membelanya.

Bahkan, di disaat teman-temannya lainnya demikian jengkel kepadanya, Bagus senantiasa ada menggenggam tangannya, memberikan senyumnya yg paling hangat & selalu mendekapnya biar dia senantiasa kuat menjalani pendidikan di akademi yg keras tersebut. Ditambah dgn kawan-kawan lain dalam satu regu yg lambat-laun sejak mulai dapat menerima keadaannya, kesetiaan Bagus mendampinginya menciptakan Mahesa menjadi merasa lebih ringan menjalani kewajibannya. Bersama-sama mereka nampak gembira isikan hari-hari penuh cinta & canda sewaktu menjalani pendidikan militer.

Lupakan apapun yg Kamu ketahui berkaitan beratnya pendidikan militer, atau betapa kejamnya perploncoan dari senior-senior pada taruna-taruna baru seperti yg kemungkinan sempat Kamu dengar sampai kini. Di film ini kehidupan di akademi militer tidak jauh tidak sama bersama sekolah seminari, menyenangkan & penuh cinta kasih. Lebih dari setengah jam film bergulir, narasi tidak beranjak ke mana-mana terkecuali kisah interaksi antara Bagus & Mahesa yg semakin terbangun, & chemistry antara keduanya yg makin kuat. Baru di menit keempat puluh, narasi film mempunyai konflik berarti manakala Laras (Tika Bravani, ‘Hijab’, ‘Soekarno’) masuk ke tengah adegan mengusik pertalian yg sudah terjalin baik di antara Bagus & Mahesa.
baca juga: kata kata mutiara tentang cinta dan kehidupan


Perlu 40 menit bagi film besutan Rick Soerafani yg naskahnya ditulis oleh Jujur Prananto ini utk mengatakan rencana sesungguhnya yg hendak dielaborasi. Adalah, kisah cinta segitiga antara Bagus, Mahesa & Laras. Tetapi, rencana itu terlambat masuk ke semesta narasi sampai seterusnya film ini terseok-seok utk 40 menit lagi utk mengantarkan kisahnya menuju babak akhir, yg tinggal tersisa 15 menit.

Yang Merupakan debutan, sutradara Rick Soerafani kelihatan kepayahan mengemas film ini sampai kepada hasilnya tidak demikian terang di ‘genre’ mana film ini bernaung. Drama bukan, perbuatan lebih-lebih. Yang Merupakan suguhan drama, sutradara film ini tergagap-gagap menyampaikannya; jangankan dapat menghadirkan hubungan kisah cinta penuh romantisme yg bernyawa, sekedar mengarahkan adegan & dialog yg meyakinkan saja seolah tidak kuasa. Sedangkan serangkaian adegan tindakan yg ada di film ini, berupa baku-tembak, sangat kentara bahwa si produsen film minim referensi. Film Cynthia Rothrock dgn George Rudy dalam ‘Bidadari Punya Rambut Emas’ besutan Ackyl Anwari yg merilis terhadap 1992 bahkan mempunyai adegan tembak-tembakan yg jauh lebih mendebarkan.

Juga Sebagai penulis naskah veteran, Jujur Prananto (‘Haji Backpacker’, ‘Ada Apa Bersama Cinta?’) pula setali tiga duit, mengalami semacam MIA alias “missing in action”. &, ini pun bidang dari tanggung jawab pasti komandannya, Rick Soerafani, yg dengan cara sah & meyakinkan sudah melaksanakan aksi indisipliner bersama tidak mematuhi kaidah-kaidah pelaksanaan film yg baik. Awalnya, sebelum mendatangi bioskop aku penasaran kenapa judul film ini memanfaatkan kata “doea”, bukan “dua”. Tetapi, seketika demikian film ini berlangsung, aku melupakan pertanyaan konyol tersebut. Lantaran, melihat film ini terasa lebih berat ketimbang mengikuti beraneka ragam pelatihan di sekolah akademi militer.

No comments:

Post a Comment